Credit goes to Geddoe for the picture
Senin, 05 Mei 2008
Minggu, 04 Mei 2008
Sabtu, 03 Mei 2008
Grinder Golem
Hari ini males ke CnG, pada akhirnya jalan-jalan ke PIM dengan rencana mau nonton, dan ternyata....penuh.....
Main Objective failed, akhirnya bergegas ke Skylink buat duduk-duduk sambil cuci mata, ternyata....penuh.....
Secondary Objective failed, putus asa akhirnya duit buat tadinya nonton diputer buat beli booster DP07, emang di PIM harga booster lebih mahal, but I just wanna try my luck though, and then....Grinder Golem appeared saat gwa buka boosternya....
TIIIIDAAAAAAKKKK!!! Kilau cahaya salah satu kartu super rare yg diincer beberapa orang itu telah menyilaukan mata gwa, kartu seharga US$ 15 jatuh ketangan gwa dengan modal 40ribu, what a day!
Perjalan berlanjut ke Gramedia PIM 1, dimana gwa iseng buat nyari komik baru, tapi hasilnya nihil. Gak ada tujuan gwa ngeliat ada kerumunan orang-orang rame di tengah Gramed, ternyata lagi ada talkshow dari "KaWanku". Gak jauh darisitu, gwa liat ada staff Gramed lagi stock buku baru, liat-liat ternyata.... Tolong, Radith Membuat Saya Bego! udah in stock! langsung aja gwa ambil dan meninggalkan TKP dengan segera (ups, hampir lupa bayar, untung diingetin mas Security, hehehe)
Dalam perjalanan pulang, ditemani oleh lagu Ebiet G. Ade (perjalanan ini~~~), gwa langsung GIGIT plastik pembungkus tuh buku, kemudian gwa buka-buku-baru-itu dan melihat foto seorang Harun Kalong pada satu bagian di buku itu, entah kenapa gwa jadi merasa iba melihat dia yang saking stressnya bisa memakan salah satu buku mutun sebagai santapannya, memang kelakuan orang yang nyentrik sebelum UAN sudah pasti tidak bisa diterima oleh akal sehat...
To Harun: halaman yang ada foto loe entah kenapa ada damage, entah ketidaksengajaan pihak percetakan atau memang sudah takdir
Jumat, 02 Mei 2008
A Tribute to Gito Rollies: Part II
Bandung, 30 April 2008, sebuah konser musik diadakan di Sasana Budaya Ganesha(Sabuga) sekitar pukul 19.00 WIB. Sebuah konser untuk menunjukan apresiasi kita kepada alm. Bangun Sugito atau biasa disapa akrab dengan nama Gito Rollies. Konser ini diberi nama "Tribute to Gito Rollies".
Sebenarnya, saya sama sekali tidak menyangka bahwa saya bisa menyaksikan sebuah konser bersama seluruh keluarga saya, sebab biasanya saya menonton konser hanya sendirian atau bersama 1-2 orang teman saya, sehingga saya juga agak kaget karena ayah saya sendiri yang mengajak saya untuk menonton konser ini.
Pada pagi hari diadakannya konser itu, saya sekeluarga hendak berangkat dari Jakarta menuju Bandung mengendarai mobil pribadi dan sampai di tujuan sekitar jam 1 siang. Masih ada sekitar 6 jam dari mulainya konser, sehingga saya memanfaatkan waktu tersebut untuk berkeliling Bandung bersama keluarga, hingga pada akhirnya kami pulang ke hotel tempat menginap kami jam 5 sore untuk bersiap-siap.
Pukul 19.00 kami pergi menuju Sasana Budaya Ganesha karena mendapat informasi bahwa konser diundur selama 1 jam, sesampainya disana saya tidak menyangka bahwa saya bisa duduk di tempat VIP, the very front row where I can see the show clearly, ternyata tempat itu disiapkan oleh paman saya yang merupakan salah satu panitia acara tersebut, saya benar-benar merasa sangat bersyukur pada waktu itu.
Tepat pukul 20.00, acara dibuka dengan dance dari group dance wanita, yang menurut saya kurang cocok untuk konser musik pada umumnya. Kemudian tampil opening band bernama "Idealego", didengar dari musiknya, mereka sepertinya menganut aliran pop-alternative, namun tidak ada yang menarik dari band ini, malah komposisi efek gitar dalam permainannya terkesan berantakan.
Setelah Idealego turun panggun, muncul band kedua "Sharkmove" yang didirikan oleh Benny Soebardja. Shakmove merupakan salah satu band papan atas pada saat The Rollies masih exist pada tahun 70-80an, dan saya harus akui bahwa band ini menampilkan permainan yang sangat bagus, terutama di bagian lead guitar yang sempat membuat dada saya bergetar karena feeling yang disampaikannya langsung menusuk dari kuping menuju dada saya. Sharkmove pada penampilan kali ini juga dibantu oleh mantan drummer GIGI sehingga membuat permainan mereka menjadi lebih apik.
"Moel Beatz Band" adalah band ketiga dalam konser ini, dengan Moelyadi Purnama sebagai vokalisnya yang merupakan mantan drummer The Rollies generasi pertama. Band ini juga memperlihatkan permainan yang sangat bagus, dimana feel mereka begitu terasa saat memainkan alat musik diatas panggung Sabuga pada saat itu.
Selesai Moel Beatz Band, "Ferry Atma Band feat Tonny" naik panggung dan membawa beberapa lagu-lagu barat tahun 80an. Harus diakui bahwa Ferry Atma selaku keyboardist dari band ini juga menampilkan permainan yang sangat baik, dimana dia bisa re-compose beberapa lagu dengan efek keyboard yang berbeda namun masih terdengar harmonis.
Band kelima adalah band Jazz, sayang sekali saya tidak ingat nama band tersebut, namun permainan mereka sebagai anak-anak SMA betul-betul mengundang decak kagum dari para penonton, mereka memiliki skill yang jauh diatas rata-rata anak SMA pada umumnya. Saya sendiri pribadi terkejut pada penampilan mereka, namun sayang mereka hanya mempertunjukan skill mereka tanpa menyampaikan feeling yang baik, sehingga permainan mereka kurang saya nikmati.
At last, after so many band, The Rollies muncul ke panggung dan mendapat sambutan yang sangat meriah dibanding band-band sebelumnya, sudah sewajarnya karena mereka adalah bintang konser kali ini. Walaupun formasi mereka sudah tidak original lagi karena banyaknya additional player, namun ciri khas warna musik mereka tetap tidak berubah, malah menurut saya mereka mengembangkan beberapa aransemen pada musik mereka hingga menjadikannya sebuah lagu yang jauh lebih spektakuler. Pada konser ini, mata saya tertuju kepada sang gitarisnya yaitu Masri, pada beberapa lagu dia memperlihatkan skillnya dengan feel yang sangat luar biasa bagi saya, jujur pada saat itu saya merasa terharu karena bisa melihat musisi tanah air memainkan gitarnya dengan penuh semangat dan dengan skill yang tinggi, otomatis saya menjadi salah satu penonton yang bertepuk tangan paling keras pada saat itu.
Konser selesai sekitar pukul 01.00 dini hari, detak jantung masih berdegup kencang akibat konser yang spektakuler ini. Saya ingin sekali masuk ke backstage dan bersalaman dengan para musisi tanah air tersebut; terutama kepada band The Rollies dan Sharkmove, namun sayang saya harus cepat pulang karena adik saya sudah sangat mengantuk akibat tidak biasa bangun hingga larut malam.
Konser "Tribute to Gito Rollies" benar-benar membuka mata saya sebagai musisi, ternyata masih banyak yang harus saya pelajari agar kelak bisa menjadi salah satu musisi tersohor di tanah air ini. Namun satu hal yang pasti, konser ini adalah salah satu konser terbaik yang pernah saya saksikan, terlebih lagi ini adalah konser dari musisi lokal Indonesia, yang otomatis membuat saya bangga sebagai warga negara Indonesia karena mempunyai musisi-musisi papan atas yang tidak kalah dengan musisi luar negeri lainnya.
Kamis, 01 Mei 2008
A Tribute to Gito Rollies: Part I
Kenal dengan Bangun Sugito? Beliau adalah salah satu rockstar di Indonesia pada era 70an dengan bandnya yang bernama "The Rollies", dan belum lama ini beliau telah pergi untuk menghadap Sang Pencipta dikarenakan oleh penyakit kanker.
Bangun Sugito, atau biasa disapa akrab dengan nama Gito Rollies, merupakan salah satu musisi Indonesia yang banyak mendapat pujian dari seantero nusantara, sehingga walau sudah lewat 37 tahun sejak berdirinya band "The Rollies" yaitu tahun 1971, nama beliau masih dikenal oleh masyarakat.
Band "The Rollies" sendiri memainkan musik dengan aliran Rock 'n' Roll, dimana pada saat itu Rock 'n' Roll memang sedang digandrungi oleh banyak kaum-kaum muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Nama "The Rollies" mulai naik daun pada pertengahan 70an, dimana hits mereka "Dansa Yuk Dansa" meledak di dunia musik. "The Rollies" selain memainkan lagu original ciptaan mereka sendiri, mereka juga sering memainkan lagu-lagu dari James Brown, Commodore, dan artis luar negeri lainnya dalam penampilannya di atas panggung.
Pada akhir tahun 90an, rocker legendaris dari band "The Rollies";Gito Rollies, mulai mengisi hari-harinya dengan berdakwah tentang ajaran-ajaran Agama Islam, sehingga banyak orang mulai melepaskan pandangan rocker dari Gito dan lebih melihat dia sebagai seorang Dai. Namun, mantan rocker Indonesia ini ternyata masih belum bisa menghilangkan rasa cinta dia dengan panggung musik, beberapa kali Gito terlihat sedang manggung bersama dengan band lokal Indonesia seperti GIGI, /rif, dan beberapa band lainnya.
Sekitar tahun 2005, Gito mulai jarang terlihat di muka umum, hal ini dikarenakan oleh kesehatannya yang semakin memburuk, sehingga dia diharuskan untuk menjalankan kemoterapi 3x seminggu di sebuah rumah sakit di Singapura.
Gito Rollies, mantan rocker Indonesia, dan juga seorang Dai Indonesia, tutup usia pada tahun 2008, tepatnya pada tanggal 28 Februari di sebuah rumah sakit di Jakarta. Indonesia telah kehilangan seorang artis legendaris yang mewarnai dunia musik rock di era tahun 1970an.
