Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juni 2008

Edane - Jabrik

album

Kenal dengan Edane? Band rock asal nusantara ini termasuk salah satu band legendaris yang pernah ada di Indonesia, terutama gitarisnya yaitu Eet Sjahranie yang sering kali disamakan dengan Eddie Van Halen atau Angus Young. Sekarang, gwa pengen review salah satu album klasik mereka yaitu Jabrik.

Album ini keluar sekitar tahun 1995, dimana pada saat itu Edane sedang dalam masa keemasannya sebagai band rock Indonesia, Edane melambung pada saat itu bersama dengan band rock lainnya seperti Rotor; Roxx Band; Slank; dll. Namun band yang masih aktif hingga sekarang adalah Slank dan Edane, walau Edane belum mengeluarkan album terbarunya saat ini.

Dalam album Jabrik, suasana Heavy Metal masih terasa dibanding dengan album-album sesudahnya yang lebih ke arah Rock. Salah satu hits mereka dalam album ini adalah Pancaroba, dimana pemain band jaman baheula bilang itu adalah salah satu lagi wajib mereka untuk manggung.

Berikut track list dari album ini:
  1. Wake of The Storm
  2. Jungle Beat
  3. Jabrik (Big Town)
  4. Victim of Strife
  5. Call Me Wild
  6. Pancaroba
  7. Kharisma
  8. Way Down
  9. Alam Manusia
  10. Burn It Down
  11. Kurusetra
Overall lagu-lagu dari album ini asik semua, terutama bagi para penggemar musik lokal yang keras. Album ini mendapat nilai 8/10 dari gwa, gwa gak bisa ngasih 9/10 atau 10/10 karena gwa kurang suka gitar solo di Pancaroba, walau riff nya enak banget buat didenger.

Well, kalau ada yang pengen download, just throw your request, I'll be glad to upload it, hehehe.

Jumat, 02 Mei 2008

A Tribute to Gito Rollies: Part II



Bandung, 30 April 2008, sebuah konser musik diadakan di Sasana Budaya Ganesha(Sabuga) sekitar pukul 19.00 WIB. Sebuah konser untuk menunjukan apresiasi kita kepada alm. Bangun Sugito atau biasa disapa akrab dengan nama Gito Rollies. Konser ini diberi nama "Tribute to Gito Rollies".

Sebenarnya, saya sama sekali tidak menyangka bahwa saya bisa menyaksikan sebuah konser bersama seluruh keluarga saya, sebab biasanya saya menonton konser hanya sendirian atau bersama 1-2 orang teman saya, sehingga saya juga agak kaget karena ayah saya sendiri yang mengajak saya untuk menonton konser ini.

Pada pagi hari diadakannya konser itu, saya sekeluarga hendak berangkat dari Jakarta menuju Bandung mengendarai mobil pribadi dan sampai di tujuan sekitar jam 1 siang. Masih ada sekitar 6 jam dari mulainya konser, sehingga saya memanfaatkan waktu tersebut untuk berkeliling Bandung bersama keluarga, hingga pada akhirnya kami pulang ke hotel tempat menginap kami jam 5 sore untuk bersiap-siap.

Pukul 19.00 kami pergi menuju Sasana Budaya Ganesha karena mendapat informasi bahwa konser diundur selama 1 jam, sesampainya disana saya tidak menyangka bahwa saya bisa duduk di tempat VIP, the very front row where I can see the show clearly, ternyata tempat itu disiapkan oleh paman saya yang merupakan salah satu panitia acara tersebut, saya benar-benar merasa sangat bersyukur pada waktu itu.

Tepat pukul 20.00, acara dibuka dengan dance dari group dance wanita, yang menurut saya kurang cocok untuk konser musik pada umumnya. Kemudian tampil opening band bernama "Idealego", didengar dari musiknya, mereka sepertinya menganut aliran pop-alternative, namun tidak ada yang menarik dari band ini, malah komposisi efek gitar dalam permainannya terkesan berantakan.

Setelah Idealego turun panggun, muncul band kedua "Sharkmove" yang didirikan oleh Benny Soebardja. Shakmove merupakan salah satu band papan atas pada saat The Rollies masih exist pada tahun 70-80an, dan saya harus akui bahwa band ini menampilkan permainan yang sangat bagus, terutama di bagian lead guitar yang sempat membuat dada saya bergetar karena feeling yang disampaikannya langsung menusuk dari kuping menuju dada saya. Sharkmove pada penampilan kali ini juga dibantu oleh mantan drummer GIGI sehingga membuat permainan mereka menjadi lebih apik.

"Moel Beatz Band" adalah band ketiga dalam konser ini, dengan Moelyadi Purnama sebagai vokalisnya yang merupakan mantan drummer The Rollies generasi pertama. Band ini juga memperlihatkan permainan yang sangat bagus, dimana feel mereka begitu terasa saat memainkan alat musik diatas panggung Sabuga pada saat itu.

Selesai Moel Beatz Band, "Ferry Atma Band feat Tonny" naik panggung dan membawa beberapa lagu-lagu barat tahun 80an. Harus diakui bahwa Ferry Atma selaku keyboardist dari band ini juga menampilkan permainan yang sangat baik, dimana dia bisa re-compose beberapa lagu dengan efek keyboard yang berbeda namun masih terdengar harmonis.

Band kelima adalah band Jazz, sayang sekali saya tidak ingat nama band tersebut, namun permainan mereka sebagai anak-anak SMA betul-betul mengundang decak kagum dari para penonton, mereka memiliki skill yang jauh diatas rata-rata anak SMA pada umumnya. Saya sendiri pribadi terkejut pada penampilan mereka, namun sayang mereka hanya mempertunjukan skill mereka tanpa menyampaikan feeling yang baik, sehingga permainan mereka kurang saya nikmati.

At last, after so many band, The Rollies muncul ke panggung dan mendapat sambutan yang sangat meriah dibanding band-band sebelumnya, sudah sewajarnya karena mereka adalah bintang konser kali ini. Walaupun formasi mereka sudah tidak original lagi karena banyaknya additional player, namun ciri khas warna musik mereka tetap tidak berubah, malah menurut saya mereka mengembangkan beberapa aransemen pada musik mereka hingga menjadikannya sebuah lagu yang jauh lebih spektakuler. Pada konser ini, mata saya tertuju kepada sang gitarisnya yaitu Masri, pada beberapa lagu dia memperlihatkan skillnya dengan feel yang sangat luar biasa bagi saya, jujur pada saat itu saya merasa terharu karena bisa melihat musisi tanah air memainkan gitarnya dengan penuh semangat dan dengan skill yang tinggi, otomatis saya menjadi salah satu penonton yang bertepuk tangan paling keras pada saat itu.

Konser selesai sekitar pukul 01.00 dini hari, detak jantung masih berdegup kencang akibat konser yang spektakuler ini. Saya ingin sekali masuk ke backstage dan bersalaman dengan para musisi tanah air tersebut; terutama kepada band The Rollies dan Sharkmove, namun sayang saya harus cepat pulang karena adik saya sudah sangat mengantuk akibat tidak biasa bangun hingga larut malam.

Konser "Tribute to Gito Rollies" benar-benar membuka mata saya sebagai musisi, ternyata masih banyak yang harus saya pelajari agar kelak bisa menjadi salah satu musisi tersohor di tanah air ini. Namun satu hal yang pasti, konser ini adalah salah satu konser terbaik yang pernah saya saksikan, terlebih lagi ini adalah konser dari musisi lokal Indonesia, yang otomatis membuat saya bangga sebagai warga negara Indonesia karena mempunyai musisi-musisi papan atas yang tidak kalah dengan musisi luar negeri lainnya.

Kamis, 01 Mei 2008

A Tribute to Gito Rollies: Part I


Kenal dengan Bangun Sugito? Beliau adalah salah satu rockstar di Indonesia pada era 70an dengan bandnya yang bernama "The Rollies", dan belum lama ini beliau telah pergi untuk menghadap Sang Pencipta dikarenakan oleh penyakit kanker.


Bangun Sugito, atau biasa disapa akrab dengan nama Gito Rollies, merupakan salah satu musisi Indonesia yang banyak mendapat pujian dari seantero nusantara, sehingga walau sudah lewat 37 tahun sejak berdirinya band "The Rollies" yaitu tahun 1971, nama beliau masih dikenal oleh masyarakat.

Band "The Rollies" sendiri memainkan musik dengan aliran Rock 'n' Roll, dimana pada saat itu Rock 'n' Roll memang sedang digandrungi oleh banyak kaum-kaum muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Nama "The Rollies" mulai naik daun pada pertengahan 70an, dimana hits mereka "Dansa Yuk Dansa" meledak di dunia musik. "The Rollies" selain memainkan lagu original ciptaan mereka sendiri, mereka juga sering memainkan lagu-lagu dari James Brown, Commodore, dan artis luar negeri lainnya dalam penampilannya di atas panggung.

Pada akhir tahun 90an, rocker legendaris dari band "The Rollies";Gito Rollies, mulai mengisi hari-harinya dengan berdakwah tentang ajaran-ajaran Agama Islam, sehingga banyak orang mulai melepaskan pandangan rocker dari Gito dan lebih melihat dia sebagai seorang Dai. Namun, mantan rocker Indonesia ini ternyata masih belum bisa menghilangkan rasa cinta dia dengan panggung musik, beberapa kali Gito terlihat sedang manggung bersama dengan band lokal Indonesia seperti GIGI, /rif, dan beberapa band lainnya.

Sekitar tahun 2005, Gito mulai jarang terlihat di muka umum, hal ini dikarenakan oleh kesehatannya yang semakin memburuk, sehingga dia diharuskan untuk menjalankan kemoterapi 3x seminggu di sebuah rumah sakit di Singapura.

Gito Rollies, mantan rocker Indonesia, dan juga seorang Dai Indonesia, tutup usia pada tahun 2008, tepatnya pada tanggal 28 Februari di sebuah rumah sakit di Jakarta. Indonesia telah kehilangan seorang artis legendaris yang mewarnai dunia musik rock di era tahun 1970an.